Peran media sosial dalam menentukan standar kecantikan di Indonesia memang tidak bisa dianggap remeh. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan penetrasi internet yang semakin luas, media sosial menjadi wadah utama bagi masyarakat untuk berbagi informasi dan pandangan mereka terkait kecantikan.
Menurut dr. Reisa Broto Asmoro, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk persepsi tentang kecantikan. “Banyaknya konten-konten terkait kecantikan di media sosial membuat masyarakat semakin terpapar dengan standar kecantikan yang seringkali tidak realistis,” ujar dr. Reisa.
Banyak selebriti dan influencer di media sosial yang seringkali menjadi panutan dalam hal kecantikan. Mereka sering membagikan tips dan trik kecantikan, serta produk-produk yang mereka gunakan. Hal ini tentu saja memengaruhi pandangan masyarakat tentang apa yang dianggap cantik dan menarik.
Namun, tidak semua pandangan tersebut selalu positif. Menurut Rani Maharani, seorang psikolog klinis, standar kecantikan yang ditampilkan di media sosial seringkali menimbulkan tekanan dan ketidakpuasan diri pada masyarakat. “Banyak orang yang merasa tidak percaya diri atau merasa kurang cantik karena tidak sesuai dengan standar kecantikan yang ada di media sosial,” ujar Rani.
Dalam hal ini, penting bagi kita untuk bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak terlalu terpengaruh dengan standar kecantikan yang ditampilkan di sana. Kita harus lebih fokus pada kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri, daripada terlalu memaksakan diri untuk mengejar standar kecantikan yang mungkin tidak realistis.
Sebagai masyarakat Indonesia yang beragam, kita harus bisa menerima dan menghargai keberagaman dalam hal kecantikan. Kecantikan sejati seharusnya berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan hanya dari apa yang ditampilkan di media sosial. Jadi, mari bijak dalam menggunakan media sosial dan tetap percaya diri dengan diri kita sendiri.